You are here:    Home      Pendidikan      Raden Dewi Sartika, Tokoh Pahlawan Pendidikan bagi Perempuan

Raden Dewi Sartika, Tokoh Pahlawan Pendidikan bagi Perempuan

Mei 31, 2022
Published in Pendidikan, Sejarah

Raden Dewi Sartika mungkin tidak begitu populernya seperti nama Raden Ajeng Kartini. Namun Dewi Sartika tidak bisa dilepaskan begitu saja dari perjuangan bangsa Indonesia, beliau merupakan salah satu tokoh perintis pendidikan bagi kaum perempuan, dan telah diakui sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1966 silam.

Sosok pahlawan perempuan Dewi Sartika lahir dari keluarga ternama di tanah Pasundan, lebih tepatnya di daerah Cicalengka pada tanggal 4 Desember 1884. Pada waktu kecil, beliau telah mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kebudayaan Sunda dari pamannya. Namun sebelumnya, Dewi Sartika sudah pernah mendapatkan pengetahuan dan wawasan seputar kebudayaan barat.

Biografi Singkat dari Dewi Sartika

Sedari kecil, Dewi Sartika dibesarkan oleh seorang priyayi atau pun kelas bangsawan Sunda yakni Raden Somanagara. Ibunya pun termasuk perempuan Sunda dengan nama Nyi Raden Ayu Rajapermas. Kedua orangtua dari Dewi Sartika pun merupakan pejuang Indonesia yang keras menentang pemerintahan kolonial Belanda.

Akibat perlawanan yang begitu keras kepada pihak Belanda, kedua orangtua Dewi Sartika pun akhirnya dihukum dengan cara diasingkan ke Ternate sehingga terpisah dengan sang anak. Setelah kedua orang tuanya wafat, Dewi Sartika pun diasuh langsung oleh sang paman, yang mana merupakan kakak kandung dari Ibunya bernama Aria.

BACA JUGA: Peta Jawa Timur HD Berwarna, Transparan, PNG

Aria merupakan seorang patih di daerah Cicalengka. Dari sang Paman inilah, Dewi Sartika pun memperoleh ilmu pengetahuan yang berhubungan langsung dengan adat budaya tanah sunda. Selain itu juga, ada seorang Asisten Residen kebangsaan Belanda yang turut andil dalam mengajarkan Dewi Sartika seputar kebudayaan dan adat dari bangsa Barat.

Bahkan, kedua orang tua Dewi Sartika telah memperkenalkan pendidikan kepada sang anak sedari kecil, walaupun hal tersebut sebenarnya sangat bertentangan bagi seorang perempuan. Dewi Sartika juga telah mengenyam pendidikan Sekolah Dasar di daerah Cicalengka.

Memperoleh Gelar Pahlawan Setelah 19 Tahun Kepergiannya

Ketika sudah memasuki usia senja, Dewi Sartika pun hidup bersama dengan warga dan para pejuang kemerdekaan. Memasuki tahun 1947, Belanda pun kembali melakukan serangannya pada agresi militer. Di sinilah peran Dewi Sartika berserta semua rakyat dan pejuang bersatu untuk melawan para penjajah.

Pada tanggal 11 September 1947, ketika sedang berada di pengungsian, Dewi Sartika akhirnya menghembuskan napas terakhirnya di kota Tasikmalaya. Sebab masih dalam keadaan perang, upacara pemakamannya pun dilakukan secara sederhana. Lokasi pemakaman Dewi Sartika berada di Cigagade, desa Rahayu, Kecamatan Cineam.

Setelah agresi militer Belanda selesai pada tahun 1950 an, makam sang pejuang pun akhirnya dipindahkan ke dalam kompleks Pemakaman Bupati Bandung. Sesuai dengan Surat Keputusan Republik Indonesia Nomor 152 Tahun 1966, Dewi Sartika memperoleh penghargaan dan gelar sebagai Pahlawan Nasional, lebih tepatnya pada tanggal 1 Desember 1966. Pada saat yang bersamaan, Sekolah Keutamaan Isteri yang dibangun olehnya pun berusia 35 tahun dan meraih gelar Orde van Oranje-Nassau.

Memiliki Minat dan Ketertarikan pada Dunia Pendidikan

Sedari anak – anak, minat dan ketertarikan Dewi Sartika pada dunia pendidikan pun sudah begitu terlihat. Sering kali, ia beserta temannya bermain guru – guruan, sebab cukup pandai dalam menulis dan membaca. Bahkan, Dewi Sartika pun sering kali berperan menjadi seorang guru. Ia pun akhirnya menerapkan kemampuan yang telah dimiliki untuk mengajar anak – anak di sekitar lingkungannya, terutama bagi anak – anak perempuan pribumi.

Dewi Sartika juga mempunyai bekal berbahasa Belanda yang cukup fasih. Pada saat remaja, Dewi Sartika pun telah mengajarkan menulis dan membaca kepada warga di sekitarnya. Dari sinilah, cikal bakal anak perempuan pribumi mendapatkan pendidikan yang setara dengan lainnya.

Pada tahun 1904, berkat adanya dukungan dari sang Kakek, Raden Agung Martanegara dan seorang Inspektur Kantor Pengajaran, Den Hamer, Dewi Sartika mulai mendirikan sebuah sekolah dan diberi nama Sekolah Isteri.

BACA JUGA: Apa sih Bedanya “work” vs “works”?

Pada saat sekolah tersebut pertama kalinya dibuka hanya mempunyai 20 murid perempuan saja. Di sini, para wanita tidak hanya belajar menulis, berhitung, dan membaca saja, melainkan diajarkan cara menjahit hingga belajar tentang agama.

Semula hanya memiliki 20 murid dan dua ruang kelas saja, berjalannya waktu mulai banyak wanita yang berbondong – bondong mendaftarkan dirinya ke dalam Sekolah Isteri. Tepat di tahun 1910, Sekolah Keutamaan Isteri akhirnya resmi membuka gedung sekolah yang jauh lebih luas daripada sebelumnya.

Dewi Sartika Mempelopori Gerakan Wanita Sunda

Setelah sukses membangun Sekolah Keutamaan Isteri, banyak juga para gadis desa yang memiliki keterampilan, mandiri, serta menjadi ibu yang baik untuk anak – anak dan keluarganya. Berawal dari sinilah, mulai banyak kalangan perempuan Sunda yang berani mendirikan sekolah, pada tahun 1912, sekolah isteri telah mencapai sebanyak 9 sekolah.

Tidak berhenti sampai sini saja, pada tahun 1913 pun berdiri sebuah Organisasi Keutamaan Isteri dengan tujuan memberikan naungan kepada seluruh sekolah di Tasikmalaya. Organisasi tersebut sengaja dibentuk agar menyatukan sistem pendidikan yang sudah dibangun oleh Dewi Sartika beserta perempuan Sunda lainnya.

 

Post a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*

Dewi.Me

Berisikan catatan pribadi, bersama keluarga, dan rekan-rekan berbagai informasi. Mengumpulkan serpihan hal yang menarik seputar Keluarga, Kesehatan, Pendidikan, Makanan, dan Kecantikan. Bersama-sama meningkatkan kualitas keluarga Indonesia.